Memberi

Selasa, 12 Maret 2013 0 komentar

Memberi

Kita berbicara tentang memberi lagi bukan karena sedang kekurangan, tetapi karena kita dalam kelebihan.  Kita telah diberi terlebih dahulu oleh Tuhan maka kita dapat memberi, seperti contohnya keselamatan.  Kita memberitakan ke orang lain karena kita telah mengalami dan memilikinya.  Kita memberitakan Injil supaya orang lain juga memiliki apa yang kita miliki.  Sebenarnya yang membuat kita bahagia bukanlah mimpi, tetapi apabila kita melakukannya.  Bukankah lebih bagus memberi daripada bermimpi memberi?
Sejak kecil kita telah diajarkan untuk diberi dan diberi.  Namun kemudian jika kita mau hidup bahagia maka kita harus dilatih memberi.  Kita memang sudah terbiasa diberi, tetapi berbeda kalau kita lahir dari keluarga yang tidak punya apa-apa.  Kita pasti diajarkan untuk berjuang dalam mendapatkan sesuatu.  Meski begitu, orangtua akan tetap berusaha memberi walau harus berhutang untuk kita hidup.  Firman Tuhan berkata “berilah maka kamu akan diberi”.  Seperti yang dilakukan oleh Bapa yaitu Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal (Yohanes 3:16).  Mengaruniakan seperti memberi tanpa mengharapkan kembali.  Kita tidak perlu menunggu untuk memberi atau menunggu Tuhan yang gerakkan.  Memberi adalah kebebasan kita karena Tuhan sudah ajarkan kalau kita memberi pasti akan diberi.
Sejak kita bertobat dan dilahirkan kembali ada salah satu yang bisa menghambat yaitu ketika kita tidak memberi.  Memberi uang dan tenaga itu berbeda.  Jangan berpikir kalau kita sudah melakukan sesuatu berarti kita tidak perlu memberi uang lagi.  Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan.  Kita bisa mencari uang dari usaha berjualan.  Uang berbicara tentang memakai cara sendiri.  Kecenderungan manusia adalah mengatur keuangan dengan cara sendiri.  Meski Tuhan memberi kebebasan untuk mengatur, tetapi kita harus mengatur dengan roh yang benar.  Tanpa roh yang benar, bisa-bisa kita memberi dengan maksud lain.  Biarkan Tuhan yang mengatur.  Lihat kehidupan Yusuf, sepertinya perjalanan hidupnya tidak menyenangkan.  Namun Tuhan yang mereka-reka dengan maksud untuk menyelamatkan suatu bangsa yang besar.
“Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.”  (Efesus 6:8).  Sesuatu yang baik itu adalah memberi.  Ada balasan jika kita memberi, tetapi jangan pikirkan balasannya.  Kita pasti mendapatkan balasannya asal kita memberi dengan maksud yang benar dan tulus.  Setiap keputusan yang kita ambil pasti ada konsekuensinya.  Mengikut Tuhan pasti ada balasannya.  Misalnya jika kita taat kita masuk ke sorga, sebaliknya jika kita memberontak maka kita ke neraka.  Tidak ada di tengah-tengah.
Hal terbesar yang Yesus lakukan adalah memberikan nyawa-Nya.  Hal yang terbesar juga yang kita lakukan bukan hanya bertobat dan menginjil, tetapi memberi.  Mengampuni juga termasuk memberi karena Tuhan sudah terlebih dahulu mengampuni kita.  Setiap hari hidup kita adalah memberi dan mengampuni karena di dunia kita pasti mengalami banyak hal yang tidak enak.  Ingat bahwa ada balasan kalau kita memberi.  Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai.  Mari kita mengumpulkan harta di sorga karena ngengat dan karat tidak dapat menguasainya.  Kita memberi untuk suatu kehidupan yang kekal.  Seperti dalam hal perpuluhan, Tuhan hanya minta sepuluh persen.  Jangan berpikir kalau nanti tidak akan cukup untuk hidup.  Semuanya akan diuji.  Orang yang mendengar dan melakukan adalah orang yang membangun di atas batu.  Dan pasti akan ada ujian.  Waktu kita hanya taat, pada nyatanya kita tidak kekurangan.  Kalau seseorang sudah takut memberi berarti roh mamon sudah masuk pada orang itu.  Kita tidak perlu takut-takut dalam memberi.  Berilah dengan apa yang kita punya, jangan berkata bahwa kita tidak punya apa-apa untuk memberi.

Mengapa memberi menjadi sulit?  Karena ada Iblis.  Yesus dicobai Iblis untuk mengubah batu menjadi roti ketika Yesus lapar.  Di sini kita bisa lihat bahwa Iblis menawarkan sesuatu yang Yesus suka.  Kemudian Iblis menawarkan kekayaan, kekuasaan berarti Yesus juga suka hal itu.  Lalu yang terakhir Iblis mencobai dengan menggunakan firman, tetapi Yesus bisa melewati semua pencobaan itu.  Kita lihat bahwa semua yang Iblis tawarkan adalah apa yang manusia suka.  Kalau kita sendiri suka diberi dan diberi terus, tidak heran kita bisa menyembah Iblis.
“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”  (2 Korintus 9:6).  Jika Saudara ingin menjadi pemberi yang luar bisa maka memberilah yang banyak.  Sejak awal Tuhan sudah berfirman beranakcuculah dan bertambah banyaklah dan penuhi bumi.  Dia tidak berkata beranakcuculah yang sedikit-sedikit.  Mari belajar memberi banyak.  Ketika seorang janda memberikan persembahan di bait Tuhan, Yesus melihatnya.  Janda itu memberi dalam kekurangannya dan Yesus tidak melihat jumlahnya tapi melihat hatinya yang banyak memberi.  Namun kita jangan berpikir untuk memberi sedikit dan berkata yang penting hatiku memberi banyak.  Tuhan mengetahui setiap takaran masing-masing orang.  Memberi banyak akan mendapat banyak.  Jadi kalau memberi, jangan berpikir rendah.  Jika kita mendapat sedikit, itu karena kita memberi sedikit.
Tuhan senang dengan orang yang memberi dengan sukarela, tidak sedih hati dan terpaksa (2 Korintus 9:7).  Namun jangan jadikan ayat ini sebagai alasan kita untuk memberi sedikit tapi dengan sukarela.  Mari memberikan yang terbaik.  Beri banyak!  Orang yang memberi memang diberkati.  Kita tidak perlu iri, tetapi belajar dari orang itu.  Camkan, orang yang menabur banyak pasti mendapat banyak.  Menabur sedikit ya mendapat sedikit.  Belajar untuk percaya kepada Tuhan.  Dalam hal perpuluhan, Tuhan sampai berkata,”ujilah Aku”.  Berarti Tuhan pasti memberkati kita kalau kita taat.
Selain itu, Tuhan juga memberikan kasih karunia (2 Korintus 9:8).  Tidak hanya uang, tetapi Tuhan berikan segalanya termasuk kesehatan.  Lalu apalagi yang kurang?  Tuhan memberikan yang kita perlukan.  Cukup dalam segala sesuatu, tetapi juga berkelebihan.  Berkelebihan ini untuk sesuatu yang akan kita berikan kepada orang lain.  Kita memberi dan tidak kekurangan, tetapi malah bertambah.
Tuhan yang akan memenuhi segala keperluan kita (Filipi 4:19).  Kalau kita berusaha memenuhinya sendiri maka kita jadi sombong.  Anak muda yang kaya tidak mau menjual segala kekayaannya karena ia merasa kekayaan itu miliknya.  Kalau kita mengaku bahwa kita anak Tuhan maka segala kekayaan kita juga milik Tuhan.  Namun seringkali kita tamak dan maunya mengatur sendiri.  Kita adalah anak Tuhan dan tidak mungkin Dia tidak memberkati kita.  Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.  Kalau kita tidak percaya, buat apa memberi?  Namun kita adalah orang percaya dan telah dilahirkan kembali oleh karena itu kita memberi.  Tuhan adalah Tuhan atas segala sesuatu.  Dia yang akan memenuhi segala keperluan kita.  Kadang kita masih suka memakai cara sendiri bahkan tentang masa depan.  Hanya orang percaya yang mau lakukan (memberi) karena bagi orang percaya tidak ada yang mustahil.
Kita memberi karena kita memang memiliki sesuatu (1 Yohanes 3:17-18).  Bukan karena berhutang dulu, baru memberi.  Memberi itu tidak perlu banyak berpikir.  Berilah karena kita ingin mendapatkan sesuatu yang kekal.  Jangan memberi hanya untuk mendapat untung, misalnya untuk suatu posisi atau naik pangkat.  Namun jika kita memberi untuk suatu hubungan atau kedekatan ya itu tidak masalah.  Kasih Tuhan bisa lari daripada kita ketika kita tidak lagi memberi.  Kita bisa tetap tinggal dalam kasih Tuhan dengan memberi, terutama di dalam jemaat.

Apabila kita memberi, jangan mengharapkan kembali (Lukas 6:27-36).  Buat apa memberi kepada orang bisa membalasnya?  Berilah kepada orang yang tidak bisa membalas.  Namun kita lihat siapa yang 
bahagia jika kita memberi?  “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi…”  Kita tidak perlu mengharapkan balasan dari manusia karena Tuhan yang akan membalasnya.  Upah kita besar di sorga.  Tuhan memberikan segala sesuatu cukup, kalaupun berlebihan itu untuk sesuatu yang bukan disimpan sendiri tetapi diberikan.  Cukup dalam segala sesuatu dan berkelebihan untuk perbagai kebajikan.  

Darwin E. Lontoh 

0 komentar:

Poskan Komentar

 

©Copyright 2011 Penginjilan | TNB